LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 (PENETAPAN SIFAT-SIFAT FISIK)
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
PENETAPAN SIFAT-SIFAT FISIK
Dosen
Pengampuh : Dr. Lusia Narsia Amsad, S.Pd., M.Si
Drs. Jumwati., Ms
Drs. Frans
Deminggus., M.Si
Disusun
Oleh
Clara
Esterlina Kwamtagai
(2023011054007)
Serrapasay Philips Sanadi
(2023011054009)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKUTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS CENDERAWASAIH
2025
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kimia organik merupakan cabang
ilmu kimia yang mempelajari senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon,
kecuali beberapa senyawa sederhana seperti oksida karbon, karbida, dan
karbonat. Karakterisasi senyawa organik menjadi aspek penting dalam kimia
organik, baik untuk identifikasi senyawa yang tidak dikenal maupun untuk
memastikan kemurnian senyawa yang telah disintesis atau diisolasi. Salah satu
cara untuk mengkarakterisasi senyawa organik adalah melalui penentuan
sifat-sifat fisiknya.
Sifat-sifat fisik seperti titik
leleh, titik didih, densitas (kerapatan), dan indeks bias merupakan
karakteristik unik yang dimiliki oleh setiap senyawa organik. Titik leleh dan
titik didih secara signifikan dipengaruhi oleh kekuatan gaya antarmolekul dalam
suatu senyawa. Senyawa dengan gaya antarmolekul yang kuat cenderung memiliki
titik leleh dan titik didih yang lebih tinggi. Densitas, yang merupakan rasio
massa terhadap volume, memberikan informasi tentang bagaimana molekul-molekul
dalam suatu zat tersusun dan seberapa berat molekul tersebut. Sementara itu,
indeks bias, yang menggambarkan kemampuan suatu zat untuk membelokkan cahaya,
berkaitan dengan interaksi antara cahaya dan elektron dalam molekul. Praktikum
ini bertujuan untuk menetapkan sifat-sifat fisik dari beberapa senyawa organik,
yaitu titik leleh senyawa padat dan titik didih, densitas, serta indeks bias
senyawa cair.
Melalui penentuan sifat-sifat
fisik ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang
karakteristik senyawa organik dan bagaimana struktur molekulnya memengaruhi
sifat-sifat makroskopis yang dapat diamati. Data sifat-sifat fisik yang
diperoleh juga dapat digunakan untuk identifikasi senyawa dengan
membandingkannya dengan data literatur yang terpercaya. Selain itu, praktikum
ini melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan alat-alat laboratorium dan
melakukan pengukuran yang akurat.
B.
Tujuan Praktikum
- Menentukan titik
leleh dari senyawa organik padat.
- Menentukan titik
didih dari senyawa organik cair.
- Menentukan densitas
(kerapatan) dari senyawa organik cair.
- Menentukan indeks
bias dari senyawa organik cair.
- Mempelajari hubungan
antara struktur molekul dengan sifat-sifat fisik senyawa organik.
C.
Dasar Teori
1. Titik
Leleh
Titik leleh suatu zat padat murni adalah
suhu pada saat fase padat dan fase cair berada dalam kesetimbangan pada tekanan
tertentu. Kristal senyawa organik murni biasanya memiliki titik leleh yang
tajam dan berada dalam rentang suhu yang sempit (kurang dari 0,5°C). Adanya
sedikit zat pengotor dapat menurunkan dan memperlebar rentang titik leleh suatu
zat. Oleh karena itu, titik leleh sering digunakan sebagai kriteria kemurnian
suatu senyawa organik. Gaya antarmolekul yang berperan penting dalam menentukan
titik leleh meliputi:
- Gaya van der Waals: Gaya tarik-menarik lemah yang timbul akibat fluktuasi distribusi elektron dalam molekul, menghasilkan dipol sesaat. Kekuatan gaya van der Waals meningkat dengan bertambahnya ukuran dan luas permukaan molekul.
- Interaksi Dipol-Dipol: Gaya tarik-menarik antara molekul-molekul polar yang memiliki momen dipol permanen. Kekuatan interaksi ini lebih besar dibandingkan gaya van der Waals.
- Ikatan Hidrogen: Jenis interaksi dipol-dipol yang sangat kuat yang terjadi ketika atom hidrogen yang terikat pada atom yang sangat elektronegatif (seperti oksigen, nitrogen, atau fluor) berinteraksi dengan pasangan elektron bebas dari atom elektronegatif lain.
- Ketidakmurnian dalam suatu padatan umumnya akan menurunkan dan memperlebar rentang titik leleh. Hal ini disebabkan karena adanya zat asing mengganggu susunan kisi kristal yang teratur.
2. Titik
Didih
Titik didih suatu zat cair adalah suhu
pada saat tekanan uap zat cair tersebut sama dengan tekanan atmosfer di
sekitarnya. Titik didih biasanya ditetapkan pada tekanan 1 atmosfer. Dalam
proses destilasi, suhu pendidihan yang diamati dapat dipengaruhi oleh adanya
pemanasan yang berlebihan (superheating) dan kesalahan dalam pembacaan alat
(misalnya, jika penempatan termometer yang digunakan tidak pada posisi yang
benar). Sumber kesalahan lain adalah bila koreksi termometer tidak diperhatikan
atau tekanan tidak diukur dengan teliti, akibatnya diperoleh hasil titik didih
yang berbeda untuk zat yang sama. Faktor-faktor yang memengaruhi titik didih
adalah:
a. Gaya
Antarmolekul: Senyawa dengan gaya antarmolekul yang lebih kuat (misalnya ikatan
hidrogen > interaksi dipol-dipol > gaya van der Waals) memerlukan energi
yang lebih besar untuk mengatasi gaya tarik tersebut, sehingga memiliki titik
didih yang lebih tinggi.
b. Berat
Molekul: Pada umumnya, senyawa dengan berat molekul yang lebih besar memiliki
titik didih yang lebih tinggi karena memiliki gaya van der Waals yang lebih
kuat.
c. Bentuk
Molekul: Molekul dengan bentuk yang lebih kompak memiliki luas permukaan yang
lebih kecil dibandingkan dengan molekul berbentuk rantai panjang dengan berat
molekul yang sama, sehingga gaya van der Waalsnya lebih lemah dan titik
didihnya cenderung lebih rendah.
d. Tekanan
Atmosfer: Titik didih suatu cairan bergantung pada tekanan atmosfer. Titik
didih normal didefinisikan sebagai titik didih pada tekanan 1 atmosfer (760
mmHg). Pada tekanan yang lebih rendah, titik didih akan lebih rendah, dan
sebaliknya.
3. Densitas
(Kerapatan)
Densitas (Kerapatan): Densitas atau rapat
massa adalah besaran yang sering juga disebut massa jenis, yang didefinisikan
sebagai massa per satuan volume. Densitas biasanya dilambangkan dengan simbol ρ
(rho) atau d. Spesifik graviti (sp gr) adalah perbandingan antara densitas
bahan yang diinginkan dengan densitas air pada suhu tertentu (biasanya 4°C).
Densitas (ρ)
adalah besaran fisika yang menyatakan massa (m) suatu zat per satuan volume
(V), dirumuskan sebagai ρ = Vm
Densitas suatu cairan dipengaruhi oleh:
a. Berat
Molekul: Molekul yang lebih berat cenderung menghasilkan densitas yang lebih
tinggi jika volume molekulnya tidak terlalu besar.
b. Ukuran
dan Bentuk Molekul: Susunan molekul dan ruang antarmolekul memengaruhi volume
molar suatu zat. Molekul yang tersusun lebih rapat akan memiliki densitas yang
lebih tinggi.
c. Gaya
Antarmolekul: Gaya antarmolekul yang lebih kuat dapat menyebabkan molekul
tersusun lebih rapat, sehingga meningkatkan densitas.
d. Suhu:
Densitas umumnya menurun dengan meningkatnya suhu karena pemuaian volume.
4. Indeks
Bias
Indeks bias adalah ukuran seberapa banyak
cahaya dibelokkan ketika melewati suatu medium dari medium lain. Ini merupakan
sifat fisik yang khas untuk setiap zat dan dapat digunakan untuk identifikasi
dan penentuan kemurnian). Indeks bias (n) suatu medium adalah perbandingan
kecepatan cahaya dalam ruang hampa (c) dengan kecepatan cahaya dalam medium
tersebut (v), dirumuskan sebagai n = v/c
Ketika cahaya melewati batas antara dua
medium dengan indeks bias yang berbeda, cahaya akan mengalami pembiasan
(refraksi), yaitu perubahan arah rambat. Sudut datang (θ1) dan sudut
bias (θ2) dihubungkan oleh hukum Snellius:
n1 sin θ1 = n2
sin θ2
Indeks bias suatu zat cair dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain:
- Struktur Molekul:
Jenis dan susunan atom dalam molekul, serta keberadaan ikatan rangkap
atau sistem π yang dapat berinteraksi dengan cahaya, memengaruhi indeks
bias.
- Panjang Gelombang
Cahaya: Indeks bias bergantung pada panjang gelombang cahaya yang
digunakan. Biasanya, pengukuran indeks bias dilakukan pada panjang
gelombang natrium D (garis kuning, λ≈589 nm) dan dilambangkan dengan nD.
- Suhu: Indeks bias
umumnya menurun dengan meningkatnya suhu karena perubahan densitas dan
polarisabilitas molekul. Oleh karena itu, pengukuran indeks bias biasanya
disertai dengan pencatatan suhu.
Pemahaman terhadap dasar teori ini penting
untuk menginterpretasikan hasil praktikum dan menghubungkan sifat-sifat fisik
yang diamati dengan karakteristik molekuler senyawa organik yang diuji.
D.
Alat Dan
Bahan
1. Alat
·
Senyawa organik padat
yang akan ditentukan titik lelehnya
·
Labu didih kecil
·
Pemanas (heating mantle)
·
Termometer
·
Hidrometer
·
Piqnometer 10 mL
·
Neraca Analitik
·
Batang Pengaduk
·
Gelas Ukur 1 Liter
·
Gelas ukur 10 mL
·
Spatula
·
gelas Baker 50 mL, 100
mL, dan 200 mL
·
Tissu
·
Pipet tetes
2. Bahan
·
Padatan NaCl
·
Aquades (H2O)
E. Prosedur
Kerja
- Penentuan Titik
Leleh:
·
Haluskan sedikit sampel
senyawa organik padat dan masukkan ke dalam tabung kapiler hingga ketinggian
tertentu (misalnya, 2-3 mm).
·
Lekatkan tabung kapiler
pada termometer alat penentuan titik leleh.
·
Panaskan alat penentuan
titik leleh secara perlahan dan amati perubahan yang terjadi pada sampel.
·
Catat suhu awal ketika
tetesan pertama cairan mulai terbentuk dan suhu akhir ketika seluruh sampel
telah mencair. Rentang suhu ini adalah titik leleh senyawa tersebut.
·
Ulangi percobaan beberapa
kali untuk mendapatkan hasil yang akurat.
- Penentuan Titik
Didih:
·
Masukkan sejumlah kecil
senyawa organik cair ke dalam labu didih.
·
Tambahkan beberapa batang
didih atau ebulling chips untuk mencegah pemanasan berlebih.
·
Pasang termometer
sedemikian rupa sehingga ujung bawahnya berada di atas permukaan cairan tetapi
di bawah cabang samping labu.
·
Panaskan labu didih
secara perlahan dan amati kenaikan suhu.
·
Catat suhu ketika terjadi
pendidihan yang stabil (suhu tidak lagi naik atau hanya berfluktuasi sedikit).
Ini adalah titik didih senyawa tersebut pada tekanan atmosfer saat itu.
·
Ukur tekanan atmosfer
pada saat percobaan.
·
Ulangi percobaan beberapa
kali untuk mendapatkan hasil yang akurat.
- Penentuan Densitas:
· Timbang piknometer kosong
yang bersih dan kering (sebut sebagai m1 ). Isi piknometer dengan
senyawa organik cair hingga penuh dan tutup. Pastikan tidak ada gelembung udara
di dalamnya.
· Timbang piknometer yang
berisi senyawa organik cair (sebut sebagai m2 ).
· Ukur volume piknometer
(V). (Jika menggunakan gelas ukur, catat volume cairan yang diukur).
· Hitung massa senyawa
organik cair dengan mengurangkan massa piknometer kosong dari massa piknometer
berisi cairan (m= m2 −m1).
- Penentuan Indeks
Bias:
1. Persiapan
Alat:
· Pastikan refraktometer
Abbe dalam kondisi bersih dan berfungsi dengan baik. Bersihkan permukaan prisma
menggunakan kain lap halus jika perlu.
· Hubungkan refraktometer
ke sumber daya (jika diperlukan).
· Nyalakan lampu penerangan
pada refraktometer.
2. Kalibrasi
(Jika Diperlukan):
·
Beberapa refraktometer
Abbe memerlukan kalibrasi menggunakan standar dengan indeks bias yang diketahui
(misalnya air suling). Ikuti petunjuk manual refraktometer untuk prosedur
kalibrasi jika diperlukan. Biasanya, kalibrasi dilakukan dengan meneteskan sedikit
standar pada prisma dan mengatur skala hingga menunjukkan nilai indeks bias
standar yang sesuai.
3. Penetesan
Sampel:
·
Buka prisma refraktometer
dengan hati-hati.
· Gunakan pipet tetes untuk
mengambil sedikit sampel cairan atau senyawa yang akan diukur.
· Teteskan beberapa tetes
sampel secara merata pada permukaan prisma bagian bawah. Pastikan sampel
menutupi seluruh permukaan prisma.
· Tutup kembali prisma
dengan hati-hati. Pastikan tidak ada gelembung udara di antara prisma dan
sampel.
4. Pengamatan
Melalui Lensa Okuler:
· Lihat melalui lensa
okuler refraktometer. Anda akan melihat bidang pandang dengan garis batas
terang dan gelap (garis Abbe).
·
Fokuskan lensa okuler
jika perlu hingga garis batas terlihat tajam.
·
Pembacaan Skala Indeks
Bias:
· Putar knop atau sekrup
pengatur pada refraktometer hingga garis batas terang dan gelap tepat
berpotongan pada titik fokus atau pada garis silang di bidang pandang.
· Baca nilai indeks bias
yang ditunjukkan pada skala. Skala biasanya menunjukkan nilai indeks bias (nD
) dan terkadang skala untuk persentase zat terlarut.
· Catat nilai indeks bias
yang terbaca.
5. Pengukuran
Berulang (Jika Diperlukan):
· Untuk mendapatkan hasil
yang lebih akurat, ulangi langkah 3-5 beberapa kali dengan sampel yang sama.
Pastikan untuk membersihkan prisma dan mengganti dengan sampel baru setiap kali
pengukuran diulang.
6. Pembersihan
Alat:
·
Setelah selesai
pengukuran, buka kembali prisma.
·
Bersihkan permukaan
prisma dengan hati-hati menggunakan kain lap halus yang dibasahi dengan pelarut
yang sesuai (misalnya air atau alkohol), tergantung pada jenis sampel yang
diukur.
·
Keringkan permukaan
prisma dengan kain lap kering yang bersih.
·
Tutup dan simpan
refraktometer di tempat yang aman.
PEMBAHASAN
F.
Tabel Data Hasil
Pengamatan
|
Sifat
Fisik |
Senyawa |
Percobaan |
Data |
Nilai/Hasil |
|
Densitas |
(Percobaan
1) |
1 |
Massa
= 9,4076 gram, Volume = 10 mL |
Ρ1
= 0,94076 g/mL |
|
Densitas |
(Percobaan
2) |
2 |
Massa
= 9,1764 gram, Volume = 10 mL |
Ρ2
= 0,91764
g/mL |
|
Densitas |
Air |
3 |
Massa
Jenis = 1000 gram/Liter = 1 g/mL |
(Sebagai
pembanding) |
|
Densitas |
(Percobaan
3) |
3 |
Alat:
Hidrometer, Volume: Piknometer |
(Perlu
data pembacaan hidrometer dan volume) |
|
Indeks
Bias |
Larutan
Garam |
4 |
3
± 0,5 g dalam 30 mL |
(Perlu
nilai indeks bias yang terukur) |
|
Densitas |
(Percobaan
1) |
- |
Berat
Piknometer Kosong (1) = 13,2736 gram |
|
|
|
|
|
Berat
Piknometer + Cairan (1) = 22,4500 gram |
Massa
Cairan (1) = 9,1764 gram |
|
Densitas |
(Percobaan
2) |
- |
Berat
Piknometer Kosong (2) = 13,2736 gram |
(Asumsi
piknometer sama |
|
|
|
- |
Berat
Piknometer + Cairan (2) = 22,7532 gram |
Massa
Cairan (2) = 9,4796 gram |
G. Analisis
Data Hasil Pengamatan dan Perubahan Fisik yang Terjadi
- Densitas
·
Percobaan 1 (Densitas Senyawa Cair)
a)
Data : Massa = 9,4076 gram, Volume
= 10 mL.
b)
Perhitungan : ρ1= VolumeMassa
= 10 Ml 9,4076 gram = 0,94076 g/mL.
c) Analisis
: Densitas senyawa cair pada percobaan ini adalah 0,94076 g/mL. Ini
menunjukkan bahwa senyawa tersebut sedikit kurang rapat dibandingkan air murni
pada suhu kamar (densitas air sekitar 1 g/mL ). Perubahan yang terjadi adalah
pengisian volume piknometer dengan cairan yang akan diukur densitasnya,
kemudian penimbangan untuk mendapatkan massa cairan tersebut. Ini adalah proses
fisik pengukuran massa dan volume.
- Percobaan
2 (Densitas Senyawa Cair)
a)
Data : Massa = 9,1764 gram,
Volume = 10 mL.
b)
Perhitungan:
ρ2=VolumeMassa=10 mL9,1764 gram=0,91764 g/mL.
c)
Analisis: Densitas senyawa cair pada
percobaan kedua ini adalah 0,91764 g/mL, yang juga kurang rapat dari air.
Perbedaan nilai densitas antara percobaan 1 dan 2 (0,94076 g/mL vs 0,91764
g/mL) mungkin disebabkan oleh perbedaan jenis senyawa yang diukur, atau adanya
variasi dalam pengukuran massa atau volume piknometer. Perubahan yang terjadi
sama dengan percobaan 1, yaitu pengukuran massa dan volume suatu cairan.
·
Densitas Berdasarkan Penimbangan Piknometer
Percobaan 1 (berdasarkan penimbangan piknometer)
a)
Berat Piknometer Kosong (1) = 13,2736 gram.
b)
Berat Piknometer + Cairan (1) = 22,4500 gram.
c)
Massa Cairan (1) = 22,4500 gram - 13,2736 gram = 9,1764 gram.
d)
Analisis : Jika volume piknometer ini 10 mL, maka densitasnya
adalah 10 mL 9,1764 gram = 0,91764 g/mL. Perhatikan bahwa hasil
ini cocok dengan ρ2 yang dihitung sebelumnya. Ini adalah proses penentuan
massa cairan secara akurat melalui penimbangan diferensial.
Percobaan 2 (berdasarkan penimbangan piknometer)
a)
Berat Piknometer Kosong (2)
= 13,2736 gram (asumsi piknometer sama).
b)
Berat Piknometer + Cairan
(2) = 22,7532 gram.
c)
Massa Cairan (2) = 22,7532
gram - 13,2736 gram = 9,4796 gram.
d) Analisis : Jika volume piknometer ini 10 mL, maka densitasnya adalah
10 mL9,4796 gram=0,94796 g/mL. Hasil ini mendekati ρ1 yang
dihitung sebelumnya. Variasi kecil dalam massa cairan dapat berasal dari
perbedaan pengisian piknometer atau variasi suhu yang memengaruhi volume
cairan.
e)
Densitas Air = Massa Jenis = 1000 gram/Liter =
1 g/mL.
f)
Analisis : Data ini digunakan sebagai standar pembanding untuk densitas, karena
spesifik graviti adalah perbandingan densitas bahan dengan densitas air pada
suhu tertentu (biasanya 4°C).
- Densitas (Percobaan 3 - Hidrometer,
Piknometer): Data pembacaan
hidrometer dan volume piknometer masih perlu diisi.
- Analisis yang diharapkan : Jika data ini tersedia, Anda akan
membandingkan hasil densitas yang diperoleh dari hidrometer (yang
memberikan pembacaan langsung) dengan metode piknometer (yang lebih
akurat). Perbedaan mungkin menunjukkan ketelitian masing-masing alat atau
kesalahan paralaks saat membaca hidrometer. Perubahan fisik yang terjadi
adalah hidrometer akan mengapung dalam cairan pada kedalaman tertentu
sesuai dengan densitas cairan.
- Indeks Bias
·
Larutan Garam : Konsentrasi 3 ± 0,5 g dalam 30 mL. Nilai indeks bias terukur masih
perlu diisi.
·
Analisis yang diharapkan : Indeks bias menggambarkan kemampuan suatu zat untuk membelokkan cahaya.
Untuk larutan garam, indeks bias diharapkan lebih tinggi daripada air murni
karena adanya partikel terlarut (ion-ion garam) yang berinteraksi dengan
cahaya. Semakin tinggi konsentrasi garam, semakin tinggi pula indeks biasnya.
Perubahan fisik yang terjadi adalah pembelokan cahaya saat melewati larutan
garam di dalam refraktometer, menghasilkan garis batas terang dan gelap yang
spesifik pada skala. Suhu pengukuran 20°C penting dicatat karena indeks bias
sangat bergantung pada suhu.
PENUTUP
H.
Kesimpulan
Praktikum ini melibatkan serangkaian
pengukuran sifat-sifat fisik dasar (densitas, indeks bias, titik leleh, dan
titik didih) yang penting dalam karakterisasi senyawa organik. Hasil yang
diperoleh memberikan gambaran tentang karakteristik fisik sampel yang diuji.
"Reaksi" yang diamati dalam percobaan ini adalah perubahan fisik
seperti transisi fase padat-cair (pelelehan), transisi fase cair-gas
(pendidihan), serta interaksi cahaya dengan materi (indeks bias), dan hubungan
massa-volume (densitas). Variasi dalam hasil antar percobaan atau dari nilai
literatur dapat menjadi indikasi adanya pengotor, kesalahan pengukuran, atau
perbedaan kondisi eksperimen (misalnya, suhu dan tekanan).
Komentar
Posting Komentar